Kamis, 28 Agustus 2014
Update Info
Beranda / Artikel / Merenungkan Makna Barakah

Merenungkan Makna Barakah

Achmad Diny Hidayatullah

Dalam kehidupan sehari-hari istilah barakah tidaklah asing kita dengarkan. Lebih-lebih di lingkungan pesantren ataupun masyarakat yang lekat dengan tradisi santri. Seakan-akan barakah adalah suatu tujuan mulia yang hendak dicapai, dimana jika sesorang mendapatkannya maka dia terbilang orang yang sukses dan bahagia. Banyak sekali perbuatan yang dilakukan oleh seseorang (terutama santri dikalangan pesantren) yang sepertinya tidak masuk akal, tapi tetap dilakukan, dengan tujuan mendapatkan keberkahan dalam ilmu sebagai bekal kehidupannya kelak.

Ada banyak cerita tentang hikmah dibalik pencarian barakah ini. Seperti cerita seorang santri yang mencari ilmu di pesantren dan setiap hari hanya mengurusi ternak kyainya. Mulai pagi dia mencarikan rumput, menggembala, memandikan sampai membersihkan kotoran ternak tersebut. Kegiatan rutin itu dilakukan dengan penuh keikhlasan dengan harapan sang kyai ridla atas ilmu-ilmu yang diberikan. Tidak banyak hal yang dilakukan santri tersebut, kecuali mengurusi ternak yang sangat menyita waktu dan sesekali tetap ngaji seperti santri yang lain. Alkisah, setelah bebrapa tahun (terkadang sampai puluhan tahun), sang kyai yang senang atas ‘pengabdian’ santri tersebut, akhirnya mempersilahkan santri tersebut untuk pulang dan berdakwah untuk masyarakat. Santri yang bingung atas perintah kyai tersebut hanya bisa pasrah dan percaya. Walaupun dalam hati kecilnya merasa belum siap, karena sangat sedikit yang dipelajari di pesantren tersebut. Tapi perintah kyai pasti mengandung pesan tersembunyi yang sekarang mungkin tidak masuk akal. Akhirnya santri tersebut pulang, dan mulai mengdakan pengajian kecil-kecilan. Tahun demi tahun jama’ah pengajian tersebut tambah banyak, kemudian dikembangkan menjadi pesantren juga, dan tumbuh menjadi pesantren besar dengan jumlah santri yang sangat banyak.

Mungkin ini hanya cerita yang aneh untuk zaman sekarang. Mana mungkin ada pencari ilmu yang kegiatan rutinnya ‘hanya ngarit’. Idealnya rutinitas santri ya berhubungan dengan kegiatan-kegiatan keilmuan seperti belajar dengan tekun, mutola’ah, menghafal, musyawarah dan mengkhatamkan berbagai kitab referensi. Tapi inilah keunikan kehidupan di pesantren. Bukan hanya logika manusia yang dipakai, tapi lebih pada logika langit, logika Tuhan Yang Maha Kuasa : Allah swt.

Tulisan ini bukan ingin menjadi legitimasi, agar orang yang mencari ilmu meninggalkan belajar dengan tekun. Seorang murid atau santri, sudah menjadi kewajiban utamanya adalah menuntut ilmu dengan sungguh-sunguh, dengan berbagai variasinya. Akan tetapi ingin menyajikan sisi lain sebuah metode yang kurang lazim dalam mencari ilmu –atau mencari apapun-, tapi diyakini dan terbukti berhasil sebagai bekal hidup dan kehidupan di dunia.

Tiga Makna Barakah

Barakah atau berkah dalam istilah di pesantren adalah bertambah-tambah dalam kebaikan (ziyadatun fi khoir). Dalam kehidupan di masyarakat, sering istilah ini disimplikasi menjadi berkat, yaitu sebungkus nasi dan aneka kue untuk para tamu undangan yang diberikan tuan rumah sebagai shadaqah. Inti dari shadaqah tersebut memang ingin mendapat pahala dan berkah dari Allah swt, karena memberi sebagian kelebihan untuk sesama. Secara bahasa, kata barakah berasal dari bahasa Arab, dari kata kerja lampau (fi’il madli : Baraka – Barakatan). Kata ini, menurut Imam al-Asfahani, pakar bahasa al-Qur’an, mengacu kepada arti al-luzum (kelaziman), dan al-tsubut (ketetapan atau keberadaan) serta tsubut al-khayr al-ilahy (adanya kebaikan Tuhan). Artinya segala sesuatu kebaikan yang berasal dari Allah swt, adalah inti dari barakah.

Dalam kehidupan sehari-hari makna barakah bisa di lihat dari tiga segi. Pertama, barakah berarti an-nama’ (tumbuh). Tumbuh berarti bertambah secara kualitas atau nilai, bukan kuantitas. Tumbuh ini mungkin secara kasat mata tidak terlihat, karena tidak ada perubahan dari segi bentuk dan fisik. Akan tetapi, bertambah dalam kualitas ini dapat dirasakan secara nyata dengan perbandingan sebelum dan sesudah. Misalkan seseorang berpenghasilan bulanan sebesar 1 juta. Pada bulan Februari uang tersebut digunakan, akan tetapi tidak dapat dirasakan hasilnya yang nyata, sesuatu yang ada tanpa bekas. Di bulan berikutnya, uang tersebut mempunyai nilai yang lebih, missal karena digunakan untuk membantu orang lain, dishadaqahkan untuk pengembangan pendidikan dan lain sebagainya. Ini makna barakah yang bisa dirasakan pertambahan nilainya, walaupun wujud materinya tetap.

Kedua, makna barakah adalah al-ziyadah (bertambah atau berkembang). Kalau ini bertambah secara kuantitas, ada perubahan jumlah yang bisa dilihat dengan mata kepala. Misal, jumlah penghasilan bulanan seseorang adalah 1 juta, tapi karena barakah jumlahnya bertambah tanpa diperkirakan sebelumnya, menjadi lebih banyak dari biasanya.

Makna yang ketiga, barakah bermakna al-sa’adah (kebahagiaan). Ini –menurut penulis- adalah makna barakah yang paling penting. Esensi hidup adalah bahagia. Do’a yang sering kita panjatkan adalah fi ad-dunya hasanah dan fi al-akhiroti hasanah, bahagia di dunia dan akhirat. Kekayaan yang berlimpah, ilmu yang luas, wajah yang elok rupawan, nama yang terkenal, kekuasaan yang tinggi, pengaruh yang absolut adalah perwujudan kesenangan dunia, tapi itu semua sama sekali tidak menjamin  kebahagiaan. Malah akan menjadi beban yang berat, jika tidak mampu mengelola dengan cara yang baik. Berapa banyak contoh yang terjadi di sekiling kita, di tv dan media massa, tentang artis yang bunuh diri, hartawan yang frustasi, pejabat publik yang sakit parah, tokoh politik yang dipenjara, pejabat yang korupsi, bos perusahaan yang kolusi dan lain sebagainya.

Kebahagiaan yang hakiki berasal dari Allah swt. Ketenangan jiwa yang didapat dengan mengikuti ajaran yang Allah swt secara istiqamah, tidak akan bisa ditemukan dengan jalan lain. Barakah berasal dari kemauan kita untuk selalu berusaha menjalani perintah Allah dan menjahui laranganNya. Kalau keberkahan harta, didapatkan dengan cara jalan yang halal dan menggunakannya dengan cara yang baik pula. Tidak ada ceritanya koruptor bahagia, meskipun dia banyak harta. Para artis yang doyan dugem, hanya kelihatannya bahagia. Hidup dalam keadaan ‘seolah-olah’ dan ‘seakan-akan’. Kebahagiaan yang semu akan diberikan bagi mereka yang hidupnya kelewat batas, kecuali mau bertaubat dan mendapat hidayah dari Allah swt.

Imam Ghazali dan Gurung Tukang Sol Sepatu

Belajar dari kisah Hujjatul Islam, Imam Ghazali, yang dinukilkan dari kitab Maroqi Al-‘Ubudiyyah karangan Imam Nawawi Al-Jawi, syarah dari kitab Bidayah Al-Hidayah karangan Imam Ghazali, tentang perjalanan beliau mendapatkan ilmu ladunni dengan cara tabarrukan (mencari  barakah ilmu dari guru). Imam Ghazali adalah ulama besar yang mengarang berbagai kitab, baik ilmu Fiqh dan Tasawuf. Salah satu karangan beliau yang paling terkenal adalah Tahafut Al-Falasifah dan Ihya’ Ulumuddin. Pada awalnya, Imam Ghazali hanyalah ulama biasa, yaitu sebagai imam Masjid. Ia sangat rajin menjadi imam shalat berjama’ah lima waktu besama-sama dengan masyarakat di sekitarnya. Tapi anehnya, saudaranya yang bernama Imam Ahmad, tidak mau ikut berjama’ah bersama Imam Ghazali. Bahkan ia bersikap acuh kepadanya. Hal inilah yang membuat Imam Ghazali merasa jengkel kepada saudaranya.

Imam Ghazali, sebenarnya telah mengadukan sikap saudaranya itu kepada ibunya, agar sang ibu mau menasehatinya. Ibu memberi nasehat kepada Ahmad, agar dia mau berjama’ah di masjid bersama masyarakat sekitar.

Pada saat Imam Ghazali menjadi Imam, tiba-tiba saudaranya melihat bahwa baju yang dipakai Imam Ghazali penuh dengan lumuran darah. Karena itulah, beliau akhirnya memisahkan diri (Mufaraqah) tidak mau shalat berjama’ah bersama-sama yang lain.

Mengetahui sikap saudaranya itu, Imam Ghazali menjadi bingung. Dia tidak mengerti mengapa saudaranya itu betul-betul tidak mau shalat berjama’ah dengannya. Dengan hati yang penuh pertanyaan, akhirnya Imam Ghazali memberikan diri untuk bertanya. “Mengapa engkau bersikap acuh ketika aku menjadi imam shalat?” Saudaranya menjawab, “Bagaimana saya harus berjama’ah dengan seorang yang bajunya berlumuran darah?”

Mendengar jawaban tersebut, Imam Ghazali sangat terkejut. Ia menyadari bahwa waktu itu dirinya kurang bisa khusuk dalam shalatnya karena memikirkan masalah yang diajukan seseorang kepadanya. Yakni masalah darah wanita (haidh). Karena masalah tersebut belum ditemukan jawabanya, maka pikiran Imam Ghazali menjadi kalut hingga mengakibatkan shalatnya tidak khusuk.

Seketika itu pula Imam Ghazali baru menyadari bahwa saudaranya ternyata bukan orang sembarangan. Maka dengan rasa hormat, dia pun bertanya, “Wahai saudaraku, darimana engkau memperoleh ilmu yang seperti itu?”. Jawab Ahmad “Ketahuilah wahai saudaraku, aku belajar dari seorang guru yang pekerjaanya sehari-hari menjadi tukang sol sepatu.”

“Kalau begitu, tolong kiranya engkau sudi menunjukkan padaku guru tersebut,” pinta Imam Ghazali. Imam Ahmad pun akhirnya berkenan mengantarkan Imam Ghazali menemui orang yang dimaksud. Setelah dipertemukan, Imam Ghazali pun menyatakan keinginan untuk menimba ilmu dari orang tersebut. Tapi waktu itu, tukang sol sepatu malah balik berkata kepada Imam Ghazali, “Pikirkanlah terlebih dahulu. Jangan-jangan engkau nanti tidak akan mampu melaksanakan perintahku!”

“Insya Allah, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti apa pun yang tuan guru kehendaki,” jawab Imam Ghazali.

“Sebelum aku mengajarkan ilmu kepadamu, tolong kau bersihkan lebih dahulu lantai tempat kerjaku ini agar enak dipandang mata,” demikian kata sang guru.

Imam Ghazali pun segera mencari sapu untuk melaksanakan perintah sang guru. Tapi sang guru menyuruh menyapu lantai itu dengan tangannya. Maka Imam Ghazali Menyapu dengan tangannya. Kemudian ketika melanjutkan menyapu, beliau melihat banyak kotoran yang berserakan di lantai tersebut.

Sang Guru berkata, “Sapulah kotoran itu.” Ketika Imam Ghazali hendak melepaskan bajunya, sang guru berkata, “Sapulah lantai itu dengan baju yang engkau pakai.”

Ketika Imam Ghazali dengan senang hati hendak menyapunya, sang guru kemudian melarangnya dan menyuruh pulang ke rumahnya.  “Nah, sekarang pulanglah engkau!” begitu perintahnya.

Imam Ghazali tak menyangka sama sekali. Dia menyangka hari itu akan mendapatkan bimbingan untuk mempelajari sesuatu, namun apa yang diperkirakan ini meleset. Karena itu, ia pun segera berpikir, mungkin saja hari itu sang guru sudah lelah karena bekerja seharian, sehingga beliau tak mengajarkan ilmu kepadanya akan diberikan pada kesempatan lain. Imam Ghazali pun pulang sesuai perintah guru tanpa memperoleh sedikitpun pelajaran darinya. Akan tetapi, sampai dirumah, Imam Ghazali merasakan bahwa dalam hatinya ada sebuah pergolakan, sehingga menimbulkan perubahan besar. Beliau merasakan adanya sesuatu yang aneh dalam dirinya. Yaitu ada suatu ilmu yang biasanya sering disebut-sebut orang sebagai ilmu ladunni. Yakni ilmu yang diberikan Allah swt tanpa melalui belajar sebagaiman lazimnya. Melalui ilmu ladunni itu, beliau menjadi orang yang luar biasa.

Allah swt. Telah memberinya ilmu-ilmu ladunni dan ketika itu ia menyadari bahwa semua ilmu yang diajarkannya kepada muridnya adalah ilmu yang tidak ada apa-apnya dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang ditanamkan Allah dalam hatinya tanpa berusaha dan bersusah-payah.

Barang kali inilah barakah dari seorang guru yang mukhlis dan diterima oleh seorang murid yang mukhlis pula, sehingga beliau pun kelak dikenal sebagai orang berilmu pengetahuan sangat luas dan layak disebut sebagai sang Hujjatul Islam. Wallahu a’lam bi as shawab.


* Penulis adalah Alumni PP Miftahul Huda, bekerja di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tentang Achmad Diny Hidayatullah

Penulis Lepas. Alumni Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Bidang yang harus diisi, ditandai *

*

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>